Teka-Teki siapa
yang akan bertarung dalam kontes demokrasi pemilihan gubernur dan wakil
gubernur DKI Jakarta telah terjawab. Total 3 bakal calon yang sudah
mendaftarkan nama nya ke KPUD DKI Jakarta dipastikan akan saling unjuk gigi
untuk meyakinkan seluruh warga ibukota bahwa mereka lah yang pantas untuk
menjadi orang nomor 1 di Jakarta. Dari ketiga calon Gubernur dan Wakil Gubernur
ini, yang paling memberikan kejutan kepada masyarakat adalah nama Agus
Yudhoyono yang last minute ditunjuk oleh Partai Demokrat bersama dengan koalisi
nya untuk maju melenggang ke DKI 1. Ada juga nama Anies Baswedan yang akhirnya
menjadi pilihan terakhir dari Partai Gerindra dan PKS. Dan yang pasti hadirnya
petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang didukung Partai Banteng yang
sebelumnya terjadi perpecahan dalam partai untuk mendukung siapa yang akan maju
dalam pilkada DKI. Munculnya nama ketiga Calon Gubernur DKI Jakarta ini sudah
pasti tidak lepas dari campur tangan SBY, Megawati dan Prabowo. Ketiganya
seperti reuni akbar kembali untuk bertarung dalam pentas demokrasi tetapi
sekarang sebagai orang yang bermain di belakang layar.
Saya ingin membahas
satu per satu bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini.
Pertama, Anies
Baswedan-Sandiaga Uno
Kolaborasi kedua
pasangan ini dapat dikatakan masih hangat. Sandiaga harus puas dengan posisi
menjadi bakal calon wakil gubernur padahal sebelumnya digadang-gadang dan telah
diumumkan akan menjadi calon gubernur selama kurang lebih dari 3 bulan
terakhir. Sandiaga memang harus sadar dengan tingginya elektabilitas dari Anies
Baswedan dibanding dengan dirinya sendiri sehingga legowo menjadi calon wakil
gubernurnya Anies. Nama Anies baswedan sebenarnya baru saja diusulkan untuk
maju ke DKI Jakarta. Setelah tidak menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Anies Baswedan menjadi pilihan beberapa partai politik karena masih
tingginya elektabilitasnya. Saya juga belum mendapat informasi yang cukup
mengapa nama Anies Baswedan menjadi salah satu Menteri yang telah di reshuffle oleh Presiden Jokowi. Prestasi kinerja
Anies selama menjadi Menteri dapat dikatakan cukup baik, masyarakat sebenarnya
menaruh harapan besar kepadanya agar menjadikan kualitas pendidikan di
Indonesia semakin baik tetapi masyarakat pada umumnya tidak mengetahui prestasi
yang dikerjakan anies. Presiden pun mempunyai pertimbangan lain sehingga harus
mengganti Anies, tetapi apapun itu pasti Presiden Jokowi memiliki pertimbangan
khusus untuk mereshuffle Anies Baswedan. Masih hangat di
pikiran kita, saat Anies Baswedan menjadi salah satu tim pemenangan Jokowi yang
bertarung melawan Prabowo dalam Pilpres 2014 silam. Well, dalam pertarungan
menuju penguasa Jakarta, kisah masa lalu cepat terlupakan karena dalam politik
tidak ada kawan atau lawan yang abadi tetapi kepentingan lah yang akan selalu
abadi. Publik secara umum sebenarnya belum mengetahui cara atau pola kerja
Anies Baswedan atau Sandiaga Uno, sehingga masyarakat belum bisa menilai
langsung kinerja mereka tetapi masih hanya sebatas janji yang akan dikampanyekan
nantinya.
Kedua, Agus
Yudhoyono-Sylviana Murni
Pasangan calon ini
memang memberikan rasa kejutan tersendiri bagi masyarakat Indonesi umumnya,
bagaimana tidak seorang Agus Yudhoyono yang masih sangat aktif dan produktif di
Angkatan Darat harus rela mengakhiri karir nya di dunia militer. Umur yang
relatif sangat muda yaitu 38 tahun dan pangkat Mayor, rasa-rasanya disayangkan
dipertaruhkan demi DKI Jakarta pada pilkada sekarang ini. Keputusan SBY yang
menyuruh agar Agus bertarung dalam kontes merebut DKI 1 dinilai banyak orang
terlalu terburu-buru padahal SBY dikenal sebagai sosok yang sangat hati-hati
dalam memberikan keputusan penting. Saya juga tidak tahu pasti apa pertimbangan
SBY sampai menyuruh Agus untuk meninggalkan dunia militer dan memilih dunia
politik. Putra SBY, yakni Ibas sebenarnya sudah lama berkecimpung di dunia
politik, kuliah dengan latar belakang politik, menjadi anggota partai dan DPR
RI tidak memberikan jaminan kepada Ibas untuk diusung oleh SBY bertarung di DKI
Jakarta. Agus memang salah satu aset yang dimiliki oleh angkatan darat, Agus
dipastikan akan menjadi pimpinan di dunia militer nantinya tetapi pilihan untuk
merebut DKI 1 menutup masa cerah di dunia militer itu. Masyarakat jakarta juga
sebenarnya belum yakin dan tau bagaimana gaya kepemimpinan Agus apabila bekerja
di dunia sipil. Lembaga survey pun seakan kehilangan radar untuk menilai
elektabilitas dari Agus Yudhoyono. Dengan bermodalkan calon wakil gubernur
sylviana yang memiliki pengalaman birokrasi di DKI Jakarta, Agus berharap
belajar dengan cepat dari Sylviana terkait permasalahan Ibukota saat ini karena
Agus mungkin saja belum mengetahui sama sekali seluk beluk permasalahan yang
ada di birokrasi atau pun carut marut permasalahan sosial di Jakarta.
Ketiga, Ahok-Djarot
Keputusan untuk
kembali menduetkan pasangan ini juga diambil last minute ketika pendaftaran
calon gubernur dan wakil gubernur dibuka. Seperti pemberitaan yang selalu
dibahas dalam 6 bulan terakhir, penentuan kedua petahana berjalan sangat alot.
Masih hangat juga di kepala kita, 1 Juta KTP untuk Ahok agar maju melalui jalur
independen. Banyak politisi yang mempertaruhkan telinga nya atau janji-janjinya
bahwa ahok tidak akan mampu mengumpulkan 1 juta KTP, akan tetapi rakyat Jakarta
berkata lain. Ahok seakan membius warga jakarta sehingga 1 juta orang secara
sukarela mau menyerahkan KTP nya kepada Ahok. Kita kembali melihat dari sisi
politik, PDIP yang sangat alot menentukan siapa yang akan diusung mulai dari
Risma dan Ridwan Kamil untuk maju ke DKI 1. Akan tetapi, pada akhirnya pilihan
Megawati tetap jatuh ke Ahok yang dinilai secara hitung-hitungan akan tetap
menang dan partai Banteng tetap menguasai Ibukota. Perihal kinerja petahana
Ahok dan Djarot, warga Jakarta rasa-rasanya masih sangat mengharapkan kedua pasangan
ini untuk dapat melanjutkan tugas yang masih belum diselesaikan di Jakarta guna
menjadikan Jakarta sebagai role model untuk seluruh provinsi yang ada di Negeri
tercinta ini.
Kontes demokrasi
ini akan segera dimulai, marilah kita menyambutnya dengan pemikiran yang penuh
dengan akal sehat agar kita tidak tertipu dengan janji manis tetapi melihat
secara mendalam dan mendasar atas program yang ditawarkan oleh ketiga calon
gubernur dan wakil gubernur ini. Menyatakan sikap untuk mendukung salah satu pihak
sah-sah saja akan tetapi akan menjadi masalah apabila mendukung salah satu
pihak dengan menggunakan cara-cara yang tidak cerdas dan kekerasan.
Jadilah pemilih
yang cerdas dengan mengkritisi setiap program calon gubernur dan wakil
gubernur, karena Jakarta membutuhkan pemilih yang cerdas bukan yang gampang
panas dengan isu yang tidak waras.
Selamat memilih
Ibukota!