Rabu, 20 Mei 2015

Hari Kebangkitan Nasional

Saya sangat tergelitik ketika menonton berita aksi demo yang dilakukan di berbagai daerah pada saat momentum hari kebangkitan nasional.

Seperti halnya kebiasaan dari tahun ke tahun, peringatan hari kebangkitan nasional dijadikan sebagai momentum untuk menyampaikan aspirasi kekecewaan kepada pemerintahaan saat ini.  Terkhusus mahasiswa tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melakukan aksi demo damai ataupun anarkis. Semangat membara dalam jiwa seorang mahasiswa untuk menuntut pemerintahan yang adil dan kesejahteraan bagi rakyat yang terpinggirkan dengan cara lempar batu atau merusak fasilitas umum kerap sekali menjadi pertanyaan dalam benak saya. Apakah dia yang melakukan anarkis itu layak disebut ‘mahasiswa’?

Ya, saya juga dulu pernah menjadi seorang mahasiswa dan pernah ikut ambil andil melakukan aksi demo damai. Tetapi saya miris melihat aksi brutal para pendemo mahasiswa yang merusak fasilitas kepentingan umum. Saat saya kuliah, kami diajarkan untuk tidak diam terhadap penindasan kepada rakyat. Aksi merupakan wujud nyata kalau kita menolak dan menentang tirani. Tetapi apakah dengan melakukan demo dan merusak fasilitas umum yang merugikan pemerintah secara finansial untuk perawatan setelah aksi demo bukan merupakan penindasan secara tidak langsung juga! Kami belajar untuk menyampaikan orasi, menyampaikan pendapat dan menyatakan sikap, bukan untuk merusak. Prinsip aksi demo haruslah damai tanpa mengurangi esensi kritikan terhadap realita yang terjadi.

Aksi anarkis yang terjadi di beberapa daerah hari ini bukan hanya saat hari kebangkitan nasional, tetapi setiap aksi kerap sekali ada tindakan yang memicu kekerasan. Saya berpikir, apakah ada korelasi antara faktor kebudayaan atau tata krama di suatu kota dengan tingkat anarkisme saat melakukan demo? Bisa jadi, karena kita dapat melihat beberapa contoh kasus di berbagai daerah yang notabene kultur nya ‘keras’ bagaimana aksi demo sudah menjadi ajang unjuk gigi untuk menjadi lebih kuat dan ditakuti, bukan untuk amanah mulia yang dibanggakan itu.

Indonesia ini sudah memiliki amat sangat banyak permasalahan di dalamnya. Saya teringat dengan istilah, jangan tanyakan apa yang telah diberikan negara kepadamu tetapi apa yang telah kamu berikan kepada negaramu. Ya, pertanyaan sederhana apa yang telah anda lakukan untuk negara ini? Pertanyaan sederhana tetapi saya yakin banyak generasi muda tidak dapat menjawabnya. Indonesia hanya menginginkan perubahan kecil, perubahan dari dalam diri sendiri setiap orang yang bernafas di tanah air ini.

Jangan terlalu berharap terhadap perubahan besar, kalau perubahan kecil saja tidak dapat kita lakukan. Khususnya generasi muda saat ini, mulailah untuk melakukan perubahan dari hal yang terkecil sekalipun karena dengan cara itu kita telah menuju ke perubahan yang besar.

Indonesia tidak pernah kehilangan harapan. Indonesia tidak untuk ditakuti tetapi disegani negara lain. Indonesia adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk seluruh rakyat, seperti itulah Indonesia memimpin, tanpa penindasan dan kekerasan untuk mewujudkan Indonesia yang adil, damai, dan sejahtera.


Happy National Awakening Day, God Bless Indonesia!