Saya sangat tergelitik
ketika menonton berita aksi demo yang dilakukan di berbagai daerah pada saat
momentum hari kebangkitan nasional.
Seperti halnya
kebiasaan dari tahun ke tahun, peringatan hari kebangkitan nasional dijadikan sebagai
momentum untuk menyampaikan aspirasi kekecewaan kepada pemerintahaan saat ini. Terkhusus mahasiswa tidak pernah melewatkan
kesempatan untuk melakukan aksi demo damai ataupun anarkis. Semangat membara dalam
jiwa seorang mahasiswa untuk menuntut pemerintahan yang adil dan kesejahteraan
bagi rakyat yang terpinggirkan dengan cara lempar batu atau merusak fasilitas
umum kerap sekali menjadi pertanyaan dalam benak saya. Apakah dia yang
melakukan anarkis itu layak disebut ‘mahasiswa’?
Ya, saya juga dulu pernah
menjadi seorang mahasiswa dan pernah ikut ambil andil melakukan aksi demo
damai. Tetapi saya miris melihat aksi brutal para pendemo mahasiswa yang
merusak fasilitas kepentingan umum. Saat saya kuliah, kami diajarkan untuk
tidak diam terhadap penindasan kepada rakyat. Aksi merupakan wujud nyata kalau
kita menolak dan menentang tirani. Tetapi apakah dengan melakukan demo dan
merusak fasilitas umum yang merugikan pemerintah secara finansial untuk
perawatan setelah aksi demo bukan merupakan penindasan secara tidak langsung
juga! Kami belajar untuk menyampaikan orasi, menyampaikan pendapat dan
menyatakan sikap, bukan untuk merusak. Prinsip aksi demo haruslah damai tanpa
mengurangi esensi kritikan terhadap realita yang terjadi.
Aksi anarkis yang
terjadi di beberapa daerah hari ini bukan hanya saat hari kebangkitan nasional,
tetapi setiap aksi kerap sekali ada tindakan yang memicu kekerasan. Saya
berpikir, apakah ada korelasi antara faktor kebudayaan atau tata krama di suatu
kota dengan tingkat anarkisme saat melakukan demo? Bisa jadi, karena kita dapat
melihat beberapa contoh kasus di berbagai daerah yang notabene kultur nya
‘keras’ bagaimana aksi demo sudah menjadi ajang unjuk gigi untuk menjadi lebih
kuat dan ditakuti, bukan untuk amanah mulia yang dibanggakan itu.
Indonesia ini sudah
memiliki amat sangat banyak permasalahan di dalamnya. Saya teringat dengan
istilah, jangan tanyakan apa yang telah diberikan negara kepadamu tetapi apa
yang telah kamu berikan kepada negaramu. Ya, pertanyaan sederhana apa yang telah
anda lakukan untuk negara ini? Pertanyaan sederhana tetapi saya yakin banyak
generasi muda tidak dapat menjawabnya. Indonesia hanya menginginkan perubahan
kecil, perubahan dari dalam diri sendiri setiap orang yang bernafas di tanah
air ini.
Jangan terlalu berharap
terhadap perubahan besar, kalau perubahan kecil saja tidak dapat kita lakukan.
Khususnya generasi muda saat ini, mulailah untuk melakukan perubahan dari hal
yang terkecil sekalipun karena dengan cara itu kita telah menuju ke perubahan
yang besar.
Indonesia tidak pernah
kehilangan harapan. Indonesia tidak untuk ditakuti tetapi disegani negara lain.
Indonesia adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk seluruh rakyat, seperti
itulah Indonesia memimpin, tanpa penindasan dan kekerasan untuk mewujudkan
Indonesia yang adil, damai, dan sejahtera.
Happy National
Awakening Day, God Bless Indonesia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar